April 18, 2012

dia


Seribu untaian kata tertahan
Sejuta keinginan terpendam
Sejuta tanya tak terjawab
Sejuta cobaan tak henti menerpa

Memupuskan semua asa dan harapan
Memadamkan semua kobaran semangat

Timbul secercah goresan luka dihati meyayat seluruh bagian diri
Menusuk hingga ke sela nadi tak ada bagian yang luput dari siksaan ini
Hingga mengubah takdir kepribadian diri

Tetesan air mata jatuh tak tertahan, memunculkan keputusasaan
Hingga satu kata yang mampu terucap “tolong”
Tapi, dia tak mendengar
Tak ingin mendengar
Bahkan tak ada yang pernah mendengar
Sebab, dia tak perduli, tak mengerti
Tak ingin pernah mengerti, tak pernah perduli
Tak akan pernah mengerti, tak akan pernah perduli

Karena,
Dia adalah dia
Selalu begitu dan akan trus begitu sampai kapanpun.

Nb: ditulis saat kegalauan memuncak..

Tidak ada komentar: